Jumat, 11 Maret 2011

Dari Si Tahi

Brurlp..blurp..blurp...

Ketika tombol flush itu ditekan, seperti gasing aku dibuatnya.
Bunyinya bergemuruh.
Oh, ternyata yang ku dengar dua hari lalu adalah suara dari sini. 
Terhisap pusaran air, tenggelam jauh ke dalam lubang gelap, lengket, dan bau.
Manusia pun menutup sesuatu yang seperti pintu terowongan jika dilihat dari sudut ku.
Sudah tiga hari lamanya aku berdiam di dalam perut manusia, baru saja aku meluncur dari selang panjang berurat yang  berdenyut-denyut dan berkerut-kerut.
Sesak sekali di ujungnya, seperti terkena angin puyuh, aku dihempaskan ke sini.
Kubangan air yang wadahnya terbuat dari keramik berwarna merah.
Bentuknya agak aneh, seperti kursi dengan lubang berisisi air di tempat duduk nya.
Selagi aku bercerita ini, aku sedang teraduk-aduk bersama  puntung rokok yang basah, tisu-tisu lapuk, dan beberapa helai daun kangkung, juga biji cabai.
Ini tempat apa ya?
Di sini gelap, tapi bukan gelap abadi.
Jadi jika aku berpapasan dengan sesuatu tepat di wajahku, aku masih dapat melihatnya dengan samar.
Aku terus terombang ambing dalam cairan pekat seperti lumpur. 
Lalu, hey, apa itu?
Seperti berkilat dan berkilau.
Cahayanya begitu mencuri perhatian.
Di antara substansi-substansi lain yang sama sekali tidak menarik, benda itu begitu menyita pandangan.
Setengah mati aku mencoba menggerakkan badan, mendorong dengan kuat, agar dapat mendekat ke asal cahaya itu. 
Satu.. Dua.. Tiga..  hah..hah..hah.. Aku terengah...
Aku berhasil mendekatinya ketika tenagaku hampir payah.
Apa ini?
Bulat, berwarna perak, dengan kilau di salah satu sudutnya.
Waw! Cincin! Ternyata ini cincin!
Wah, kenapa bisa sampai sini ya?
Tunggu, ada ukiran di bagian dalamnya.
Seperti tulisan.
Itu sebuah nama.
Ya, ukiran dari sebuah nama seorang laki-laki.
Pernah ku dengar nama itu dua hari lalu ketika aku baru saja  terbentuk di dalam perut manusia. 
Manusia (dimana aku pernah berdiam di perutnya) pernah menyandingkan namaku dengan namanya. 
Wah, jadi bangga sekali aku. Disandingkan dengan nama yang kini aku lihat terukir di sini.


Waktu itu ku dengar:
"Tahi kau, ADAM! Sungguh Tahi!!!"
Brurlp..blurp..blurp...

Jumat, 04 Maret 2011

Adakah Kata "Pensiun" untuk Aku?

"Jangan di sini, nak. Ditahan saja dulu sampai rumah, atau tempat lain yang lebih resik. Di sini bau, jorok nak!"

Argh, bosan juga aku mendengar kalimat-kalimat seperti itu setiap waktunya...



***sepuluh tahun lalu***
"Yang mana saja lah, Pak. Yang penting bisa dipakai. Ini permintaan manajemen. Kita harus terlihat melakukan penindaklanjutan, seadanya saja."
Atas dasar pertimbangan di atas mereka memilih aku. Membasuh seluruh tubuhku dengan kain lap basah, kemudian menyelubungi tubuhku dengan kertas semen coklat yang sudah lecek, dan dipitakan dengan tali plastik. Dua lelaki berbadan kurus membopongku di atas tangan beruratnya. Aku mengucapkan selamat tinggal kepada teman ku yang lain, seiring mobil bak terbuka membawa ku berlalu.

Di sini gelap, aku tak bisa melihat apa-apa. Tapi di luar sana ramai, suara klakson kendaraan bermotor dan bising lalu lalangnya. Ya ampun, mau dibawa kemana aku? Sungguh aku tak tahu.

Hampir tertidur aku ketika mesin mobil itu berhenti dengan sedikit bergetar. Maklum, mungkin mobil tua.
Belum sempat aku pulihkan kesadaran, aku sudah diangkat dengan tangan-tangan yang kurasa lebih besar dari yang membopongku tadi. Tangan-tangan besar meremasku gemas. Aku diletakkan di dataran yang basah, aku tahu itu karena dapat kurasakan cairan menembus kertas semen dan merembes ke tubuhku.

Aku tidak dapat mengingat dengan jelas berapa lama tepatnya aku didiamkan di titik itu. Hmm, mungkin sekitar belasan kali gelap yang berganti terang dan sebaliknya. Hingga akhirnya aku dikejutkan oleh seseorang  yan g menyobek "baju" ku dengan kasar. Pada saat itu lah aku melihat dataran luas yang berlapis aspal, banyak sekali mobil-mobil dengan ukuran beragam, dari yang kecil hingga yang raksasa, semua berbaris dengan berantakan. Terlalu asik aku melakukan pengamatan, aku tak sadar telah tertanam di ruang sempit yang pengap, mereka merekatkan aku ke tanah dengan semen.

Tidaaaak!!! Tolong lepaskan aku dari sini!!! Semen basah yang dingin ini mulai mengeras dan membuatku kaku. Jahanam kalian!!!




***Lima tahun berlalu***
Aku mulai tua. Tubuhku berlumut lagi berkerak. Aku terhibur dengan seorang bapak tua bongkok dan ompong yang sering datang mengunjungiku untuk sekedar menggosok badanku dan mengepel ruangan tempatku berdiam.
Pijatan bapak yang kepala botaknya selalu ditutupi kopiah itu sungguh menyegarkan. Beliau juga sering membaluri badanku dengan wewangian. Aroma pinus, kesukaanku. Lumayan, untuk membawa aroma relaksasi setelah sehari semalam non stop aku digagahi orang-orang yang tak ku kenal. Aku menyaksikan berbagai jenis kemaluan di atasku. Oh ya, mungkin ada bagian yang terlewatkan. Selama bertahun ini aku sudah kehilangan harga diri. Laki-laki, perempuan, tua, muda, semua begitu bernafsu. Selalu dengan terburu-buru melepaskan celana atau rok nya ketika melihatku.
Tak jarang mereka melakukannya sambil  mengumpat, komplain atas ketidakmulusan tubuhku. Beberapa di antara mereka bahkan meludahi wajahku. Tapi, ya, mau bagaimana lagi? Tak ada yang dapat ku perbuat untuk semuanya.
Aku coba menahan diri saja, dan berlagak cuek seakan tak perduli.

Pernah suatu kali, seorang laki-laki paruh baya dengan aroma alkohol yang kuat dari mulutnya mendatangi aku. Belakangan aku menyadari, tangannya merangkul pinggang perempuan belia dengan celana super pendek dan kaos super ketat. Perempuan itu bibirnya merah sekali, bahkan warna merahnya luntur sampai ke pipi dan leher laki-laki yang merangkulnya. Setengah terhuyung, laki-laki  menghempaskan tubuh wanita ke dinding, merenggangkan kaki perempuan, kaki yang satu diangkat ke pinggang lelaki, kaki yang lain mendarat diwajahku. Dari sini dapat kulihat jelas kemaluan mereka beradu. HEY! sedang apa kalian yang tak tahu malu!! Tidak punya etika! Di sini ada aku! Hargai sedikit keberadaan ku walaupun juga kotor, tapi tidak senista kalian!!! Aku lebih bangga dilempari kotoran atau isi lambung manusia seperti yang kuterima setiap harinya dari pada menjadi kalian!!!
Wah, emosi sekali aku kalau ingat kejadian malam itu.  Lagi-lagi, tak ada yang bisa ku lakukan.



***sekarang****
Dulu aku putih, sekarang coklat kehijauan. Sudah tiga tahun belakangan ini bapak tua tidak datang memandikanku. Kemana ya bapak itu? Pensiun mungkin. Digantikan dengan pemuda gagah, tegap, berambut klimis, dan selalu berpakaian rapi. Aku  lebih suka bapak tua. Lebih telaten dan perhatian. Kalau yang baru ini, wuiih, malas sekali dia. Aku hanya disemprot dengan air dari selang, tidak dilumuri wewangian, apalagi body scrub.

Peminatku kini mulai berkurang. Aku mulai ditinggalkan. Aku sedih.


Aku meratap merana, sampai kapan ya aku mereka pertahankan. Aku ingin pensiun bersama bapak tua baik hati itu.  Mengapa tak ada pensiun untuk aku?

Aku berpikir seraya mendengarkan celotehan anak laki-laki umur empat tahun yang tengah berjongkok di atasku  kepada ibunya di hadapanku:
"Kalau di mall WC nya bersih, mulus, wangi. Bikin nyaman kalau adik mau eek. Di sini gak enak ya bu? Bau dan berlumut.  Adik mau muntah. Wuek. Dasar WC umum terminal!  Pasti banyak kumannya ya, bu? Ih, ada kecoak nya lagi, bu! Waaaa! Bu, ibu, kecoak nya loncat ke kaki adik. Ibuuuuuuuuu..... Toloooooooooongggggg........ !!!"












Hey, ya!
Zoomalakaboo..
Memutar tangan, gerakan mengusap bola kristal yang berkilatan biru di dalamnya
Bola kristal manis, bola kristal sayang:
Beri gambaran sugestis, walau hanya bayang-bayang..

Hey hey lauyaola!
Wikalamaroo...
Melafalkan mantra pribadi sukma, menyisir tepian cakrawala
Bola kristal gaib, bola kristal manjur:
Tunjukkan hal-hal ajaib, biar nasib jadi mujur..

Hey, ouala ya!
Yikazikamoo...
Menggetarkan telapak tangan di atas kepala, ke depan lalu ke belakang
Bola kristal sakti, bola kristal mandraguna:
Sembuhkan sakit di hati, buang kecewa tak berguna...

Hey, syakalaola!
Garagagoogoo...
Menggeliatkan pundak dan menggidikkan kepala
Bola kristal elok, bola kristal dipuja:
Lebih baik belok, ataukah lurus saja???

Hey, ASTAGA NAGA!
APAYANGKAULAKUKANPADADIRIMOO....
Bola kristal tak bernyawa, bola kristal bisu:
Kenapa bilang cinta tertawa, bila padahal palsu..!!!


Selasa, 01 Maret 2011

Cerita Sang Darah yang Tak Bersalah



Aku lahir di sumsum tulang yang putih dan lembut
Membelaiku yang memerah merona

Aku diantar menuju sesuatu yang berdenyut, berotot, dan di dalamnya ada empat sekat
Namanya bilik kiri, bilik kanan, serambi kiri, dan serambi kanan
Ramai sekali di sana, mendetakkan nama seorang yang belum ku kenal

Lalu aku dipompanya dengan kuat, melalui sesuatu yang elastis dan tak berujung, 
meresapi lubang-lubang yang disebut kapiler
Memasuki ruang-ruang sempit lain



Dan tibalah aku di sesuatu yang menyerupai akar-akar pohon yang semerawut
Bronkeolus, alveolus, semua sedang bekerja untuk sesuatu yang berhubungan dengan pernapasan
Semua hembusannya pun menghembuskan nama seorang laki-laki yang sama
Di sini aku dibersihkan, diikat dengan suatu yang disebut oksigen



Vena baik hati mengantarkan kembali aku ke tempat denganempat sekat tadi
Namun baru sebentar aku segera diantarkan lagi menuju selaput-selaput yang terjalin terstruktur
Katanya pekerjaannya untuk mengendalikan tubuh, oh iya, Otak nama nya
Lapisan-lapisannya menuliskan kode yang terbaca sebagai nama seorang laki-laki
                      Wah, siapa sih lelaki ini?



Belum cukup sampai sini, aku diajak menuju sesuatu yang berwarna kurang lebih sama denganku, namun agak kehitaman
Belakangan aku tahu, bahwa ini adalah tempat  penghancuran racun-racun 
Namanya Hati.
Hati terlihat lelah dan tersayat, oleh ASTAGA, nama yang sama!



Kembali menelusuri, aku tiba di ujung yang disebut nadi
Hey, aku terkejut setengah mati, merasakan penekanan yang luar biasa
Hentakan yang begitu hebatnya
Tanpa kusadari aku berjalan keluar meninggalkan kapiler-kapiler
Mengalir menuruni ruas yang berbuku-buku dan bergaris
Ternyata itu telapak tangan manusia
Pantas saja suhu nya berbeda, aku merasa kedinginan


Kucoba memandangi pemilik tangan ini, pemilikku
Dia seorang gadis, namun wajahnya pucat pasi
Bibirnya berkerut dan mengatup

Aku kaget!
Datang dengan tergopoh seorang pria bertubuh tegap
Memeluk dan merangkul Sang Gadis
Ketika tubuh gadis terangkat, aku terjatuh ke lantai
Dan dari sini kulihat jelas wajah keduanya

Gadis ini berbisik, nama yang akrab buat ku
Nama yang kudengar di Jantung, Paru-paru, Otak, dan Hati

Ternyata dia lelaki itu..
Yang membuat gadis ini mengeluarkan aku dari dalam tubuhnya,
Yang membuat kami berdua, aku dan Sang Gadis mati membeku bersama...


Aku, Sang Darah yang tak bersalah