Jumat, 04 Maret 2011

Adakah Kata "Pensiun" untuk Aku?

"Jangan di sini, nak. Ditahan saja dulu sampai rumah, atau tempat lain yang lebih resik. Di sini bau, jorok nak!"

Argh, bosan juga aku mendengar kalimat-kalimat seperti itu setiap waktunya...



***sepuluh tahun lalu***
"Yang mana saja lah, Pak. Yang penting bisa dipakai. Ini permintaan manajemen. Kita harus terlihat melakukan penindaklanjutan, seadanya saja."
Atas dasar pertimbangan di atas mereka memilih aku. Membasuh seluruh tubuhku dengan kain lap basah, kemudian menyelubungi tubuhku dengan kertas semen coklat yang sudah lecek, dan dipitakan dengan tali plastik. Dua lelaki berbadan kurus membopongku di atas tangan beruratnya. Aku mengucapkan selamat tinggal kepada teman ku yang lain, seiring mobil bak terbuka membawa ku berlalu.

Di sini gelap, aku tak bisa melihat apa-apa. Tapi di luar sana ramai, suara klakson kendaraan bermotor dan bising lalu lalangnya. Ya ampun, mau dibawa kemana aku? Sungguh aku tak tahu.

Hampir tertidur aku ketika mesin mobil itu berhenti dengan sedikit bergetar. Maklum, mungkin mobil tua.
Belum sempat aku pulihkan kesadaran, aku sudah diangkat dengan tangan-tangan yang kurasa lebih besar dari yang membopongku tadi. Tangan-tangan besar meremasku gemas. Aku diletakkan di dataran yang basah, aku tahu itu karena dapat kurasakan cairan menembus kertas semen dan merembes ke tubuhku.

Aku tidak dapat mengingat dengan jelas berapa lama tepatnya aku didiamkan di titik itu. Hmm, mungkin sekitar belasan kali gelap yang berganti terang dan sebaliknya. Hingga akhirnya aku dikejutkan oleh seseorang  yan g menyobek "baju" ku dengan kasar. Pada saat itu lah aku melihat dataran luas yang berlapis aspal, banyak sekali mobil-mobil dengan ukuran beragam, dari yang kecil hingga yang raksasa, semua berbaris dengan berantakan. Terlalu asik aku melakukan pengamatan, aku tak sadar telah tertanam di ruang sempit yang pengap, mereka merekatkan aku ke tanah dengan semen.

Tidaaaak!!! Tolong lepaskan aku dari sini!!! Semen basah yang dingin ini mulai mengeras dan membuatku kaku. Jahanam kalian!!!




***Lima tahun berlalu***
Aku mulai tua. Tubuhku berlumut lagi berkerak. Aku terhibur dengan seorang bapak tua bongkok dan ompong yang sering datang mengunjungiku untuk sekedar menggosok badanku dan mengepel ruangan tempatku berdiam.
Pijatan bapak yang kepala botaknya selalu ditutupi kopiah itu sungguh menyegarkan. Beliau juga sering membaluri badanku dengan wewangian. Aroma pinus, kesukaanku. Lumayan, untuk membawa aroma relaksasi setelah sehari semalam non stop aku digagahi orang-orang yang tak ku kenal. Aku menyaksikan berbagai jenis kemaluan di atasku. Oh ya, mungkin ada bagian yang terlewatkan. Selama bertahun ini aku sudah kehilangan harga diri. Laki-laki, perempuan, tua, muda, semua begitu bernafsu. Selalu dengan terburu-buru melepaskan celana atau rok nya ketika melihatku.
Tak jarang mereka melakukannya sambil  mengumpat, komplain atas ketidakmulusan tubuhku. Beberapa di antara mereka bahkan meludahi wajahku. Tapi, ya, mau bagaimana lagi? Tak ada yang dapat ku perbuat untuk semuanya.
Aku coba menahan diri saja, dan berlagak cuek seakan tak perduli.

Pernah suatu kali, seorang laki-laki paruh baya dengan aroma alkohol yang kuat dari mulutnya mendatangi aku. Belakangan aku menyadari, tangannya merangkul pinggang perempuan belia dengan celana super pendek dan kaos super ketat. Perempuan itu bibirnya merah sekali, bahkan warna merahnya luntur sampai ke pipi dan leher laki-laki yang merangkulnya. Setengah terhuyung, laki-laki  menghempaskan tubuh wanita ke dinding, merenggangkan kaki perempuan, kaki yang satu diangkat ke pinggang lelaki, kaki yang lain mendarat diwajahku. Dari sini dapat kulihat jelas kemaluan mereka beradu. HEY! sedang apa kalian yang tak tahu malu!! Tidak punya etika! Di sini ada aku! Hargai sedikit keberadaan ku walaupun juga kotor, tapi tidak senista kalian!!! Aku lebih bangga dilempari kotoran atau isi lambung manusia seperti yang kuterima setiap harinya dari pada menjadi kalian!!!
Wah, emosi sekali aku kalau ingat kejadian malam itu.  Lagi-lagi, tak ada yang bisa ku lakukan.



***sekarang****
Dulu aku putih, sekarang coklat kehijauan. Sudah tiga tahun belakangan ini bapak tua tidak datang memandikanku. Kemana ya bapak itu? Pensiun mungkin. Digantikan dengan pemuda gagah, tegap, berambut klimis, dan selalu berpakaian rapi. Aku  lebih suka bapak tua. Lebih telaten dan perhatian. Kalau yang baru ini, wuiih, malas sekali dia. Aku hanya disemprot dengan air dari selang, tidak dilumuri wewangian, apalagi body scrub.

Peminatku kini mulai berkurang. Aku mulai ditinggalkan. Aku sedih.


Aku meratap merana, sampai kapan ya aku mereka pertahankan. Aku ingin pensiun bersama bapak tua baik hati itu.  Mengapa tak ada pensiun untuk aku?

Aku berpikir seraya mendengarkan celotehan anak laki-laki umur empat tahun yang tengah berjongkok di atasku  kepada ibunya di hadapanku:
"Kalau di mall WC nya bersih, mulus, wangi. Bikin nyaman kalau adik mau eek. Di sini gak enak ya bu? Bau dan berlumut.  Adik mau muntah. Wuek. Dasar WC umum terminal!  Pasti banyak kumannya ya, bu? Ih, ada kecoak nya lagi, bu! Waaaa! Bu, ibu, kecoak nya loncat ke kaki adik. Ibuuuuuuuuu..... Toloooooooooongggggg........ !!!"











Tidak ada komentar:

Posting Komentar