Brurlp..blurp..blurp...
Ketika tombol flush itu ditekan, seperti gasing aku dibuatnya.
Bunyinya bergemuruh.
Oh, ternyata yang ku dengar dua hari lalu adalah suara dari sini.
Terhisap pusaran air, tenggelam jauh ke dalam lubang gelap, lengket, dan bau.
Manusia pun menutup sesuatu yang seperti pintu terowongan jika dilihat dari sudut ku.
Sudah tiga hari lamanya aku berdiam di dalam perut manusia, baru saja aku meluncur dari selang panjang berurat yang berdenyut-denyut dan berkerut-kerut.
Sesak sekali di ujungnya, seperti terkena angin puyuh, aku dihempaskan ke sini.
Kubangan air yang wadahnya terbuat dari keramik berwarna merah.
Bentuknya agak aneh, seperti kursi dengan lubang berisisi air di tempat duduk nya.
Selagi aku bercerita ini, aku sedang teraduk-aduk bersama puntung rokok yang basah, tisu-tisu lapuk, dan beberapa helai daun kangkung, juga biji cabai.
Ini tempat apa ya?
Di sini gelap, tapi bukan gelap abadi.
Jadi jika aku berpapasan dengan sesuatu tepat di wajahku, aku masih dapat melihatnya dengan samar.
Aku terus terombang ambing dalam cairan pekat seperti lumpur.
Lalu, hey, apa itu?
Seperti berkilat dan berkilau.
Cahayanya begitu mencuri perhatian.
Di antara substansi-substansi lain yang sama sekali tidak menarik, benda itu begitu menyita pandangan.
Setengah mati aku mencoba menggerakkan badan, mendorong dengan kuat, agar dapat mendekat ke asal cahaya itu.
Satu.. Dua.. Tiga.. hah..hah..hah.. Aku terengah...
Aku berhasil mendekatinya ketika tenagaku hampir payah.
Apa ini?
Bulat, berwarna perak, dengan kilau di salah satu sudutnya.
Waw! Cincin! Ternyata ini cincin!
Wah, kenapa bisa sampai sini ya?
Tunggu, ada ukiran di bagian dalamnya.
Seperti tulisan.
Itu sebuah nama.
Ya, ukiran dari sebuah nama seorang laki-laki.
Pernah ku dengar nama itu dua hari lalu ketika aku baru saja terbentuk di dalam perut manusia.
Manusia (dimana aku pernah berdiam di perutnya) pernah menyandingkan namaku dengan namanya.
Wah, jadi bangga sekali aku. Disandingkan dengan nama yang kini aku lihat terukir di sini.
Waktu itu ku dengar:
"Tahi kau, ADAM! Sungguh Tahi!!!"
Brurlp..blurp..blurp...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar