Selasa, 22 Februari 2011

Namaku AIR

Aku bingung, mengapa mereka senang sekali membuat ragam karakter dari aku??
Bahkan menjadikan nama ku sebagai bagian dari satu dan lain peribahasa dan perumpamaan....

Mereka bilang: "Bagai AIR di daun talas"
Artinya tidak punya pendirian.
Memangnya apa salahku?
Aku tidak plin plan!
Faktanya daun itu memiliki lapisan lilin di permukaannya yang membuat aku selalu terpeleset,
Malah aku senang bergoyang di atasnya, menari ku dibuatnya...
Ah, kalian ini, Manusia!

Mereka bilang: "AIR beriak tanda tak dalam"
Artinya orang bodoh banyak bicara.
Memangnya apa salahku?
Aku senang berbicara dan aku tidak bodoh!
Faktanya jeram-jeram dasar sungai membuatku melompat dan berselancar,
Malah aku senang bergejolak karenanya, berlatih menapaki bentuk-bentuk kenampakan alam...
Ah, kalian ini, Manusia!

Mereka bilang: "Seperti menuang AIR secawan ke lautan"
Artinya melakukan pekerjaan yang sia-sia.
Memangnya apa salahku?
Aku selalu berguna bagi siapa pun!
Faktanya saja yang hanya secawan tetap menambah debit air di lautan,
Malah aku senang dapat berkumpul dengan banyak kawanku di sana...
Ah, kalian ini, Manusia!

Mereka bilang: "AIR jernih ikannya jinak"
Artinya suatu daerah yang makmur,subur dan aman pastilah warganya hidup damai.
Memangnya apa yang mereka tahu?
Para ikan tidak sejinak yang kalian tahu!
Faktanya semua ikan selalu memangsaku,
Malah melempariku dengan kotoran mereka, dimana sisi subur dan hidup damai nya?...
Ah, kalian ini, Manusia!




Dan masih banyak lagi omong kosong mereka!
Tapi ada satu lagi yang perlu mereka tahu,
tentang sesuatu yang kerap mereka katakan:

Mereka bilang: "Biarkan mengalir seperti  AIR"
Artinya biarkan semua berjalan apa adanya.
Memangnya apa yang mereka tahu?
Aku tidak sepasrah itu!
Faktanya aku tetap berpikir,
Malah cenderung khawatir..
Tentang kemana arah yang akan ku tuju; sungai, danau, atau kah samudera?
Tentang kapan aku akan menjadi titik uap untuk kembali menjadi awan; sekarang, esok, atau kah tak akan?
Tentang bagaimana medan yang akan ku lalui; parit sempit kotor, jeram terjal, atau sungai jernih pegunungan?
Tentang siapa saja yang akan ku jumpai; dedaunan kering, limbah rumah tangga, atau kah biota air yang hidup?
Tentang dimana tempatku jatuh ketika aku dihempaskan sebagai hujan; jalan berlumpur, tebing kapur, atau pohon waru yang teduh?

Hey!
Rupa-rupa wajah dan karakterku direka-reka oleh mereka
Harkatku dianalogikan sebagai Sang Dasa Muka


MEREKA TAHU APA???



Ah, sungguhpun kalian ini, Manusia...!!!










Sabtu, 19 Februari 2011

Surat dari Jumat kepada Minggu

Aku berharap bisa mengadu kepada MingguMenangis di pelukannya dan mendengarkan degup jantungnya:




Kepada: Minggu
di tempat.

Minggu, apa kabarmu?
Aku rindu padamu walau memang kita tak pernah bertemu.
Minggu, bolehkah aku bercerita sedikit banyak padamu?
Ini semua tentang Sabtu.
Betapa Sabtu menghancurkan aku yang kini tersedu.
Mengaduh: "Aduh... aduh.. duh.. duduhh.."
Mengampun: "Ampun,, ampun.. aaaam... puuun..."
Minggu, jangan bingung dahulu.
Aku akan mulai bercerita satu-satu.

Aku kenal Sabtu dari dulu.
Dia jujur dan lugu. 
Bebas dan menyenangkan.
Aku suka bermain dengannya, dia selalu berada tepat setelahku.
Sabtu membebaskan aku, dan memberi ruang baru untukmu.
Begitu selalu, ya, seperti yang aku tahu.

Tapi Minggu, kali ini aku benar-benar sendu.
Sabtu mengoyak ragaku dan merobek jiwaku.
Ia membuka sulaman yang telah ku pintal.
Umur kita selalu sama, dua puluh empat jam lamanya.
Tapi mengapa dia harus lebih angkuh?
Seakan aku ini tak pernah ada.
Aku sakit hati, kecewa sudah karenanya, Minggu..

Sabtu itu benar-benar abu-abu.
Bisa saja dia putih, namun kemudian menghitam tanpa ku tahu.
Sabtu itu benar-benar labil.
Bisa saja dia pergi, namu kemudian datang tanpa ku panggil.

Sabtu yang sekarang, sungguh garang.
Aku dibuatnya terbakar jadi arang.
Memangnya dia pikir aku jalang???

Astaga, Minggu, tolong aku!
Aku tahu hanya kamu yang mengerti aku, sebagai yang tertua dengan umur yang sama.
Aku tahu bahwa kamu mampu memperbaiki aku dengan seksama.
Dan aku sungguh tahu, bahwa kamu, ya, benar-benar hanya kamu,
Jika dan hanya jika itu kamu!

Minggu, katakan pada Sabtu, aku ingin Sabtu yang seperti biasanya.
Yang merajuk yang merayu, yang mesra yang manja.
Selalu dan atau selamanya.................................




Dari aku yang berada di dua puluh empat jam sebelum kamu,




Salam hangat


-Jumat-             










                                                                           

Kamis, 17 Februari 2011

Kudus, 26 Juli 2010

Akhirnya aku tiba juga
Di kota yang selama ini ku rindukan
Kota kelahiran ayahku
Kota peristirahatan terakhirnya juga




***Kaki ku gemetar
Menapaki, menelusuri tanah yang di atasnya banyak ditancapkan batu batu bertuliskan nama dan tanggal tertentu
Aku mencari sebuah batu marmer abu-abu yang bercampur dengan beling hijau
yang bertuliskan nama dengan cat minyak biasa berwarna hijau pula
Aku terus mencari ke bagian sebelah kanan
Pohon kamboja banyak tumbuh dan menjatuhkan bunganya ke atas kepalaku





***
Datang lelaki tua yang menanyakan,
" Goleki sinten, mbak?"
Lalu aku menyebutkan nama yang ku cari
Lelaki itu bertanya lagi
"Mbake anaknya? Dari Jakarta?"
Aku mengangguk

Dengan bantuan bapak itu aku pun menemukan yang ku cari
Batu marmer itu sudah agak tertutup oleh tanah yang mengering terbawa angin
bertuliskan:
" WIYONO
WAFAT 28 - 6 - 2003"













***
Terduduk haru aku menatap
nama itu
nama yang ku kenal dan melekat di nama belakangku
BABEH.......
Betapa aku terlalu rindu untuk mengunjungi sarean mu ini..
Betapa terlalu banyak cerita hidupku kala ini yang tertahan di bbir ku untuk tertumpah semua di hadapan pusara mu..
Betapa terlalu kuat rasa ku untuk memelukmu...
BABEH...
di kota tempat biasa kita berjalan kaki ke mana saja
di kota tempat biasa kita mengambil buah liar di sawah
di kota tempat biasa kita bergandengan tangan menyusuri jempatan rapuh di sungai
Kini aku menyerukan nama mu di dalam hati ku
Menjerit pilu hingga sesak di dada ku
Ku jumpai nama mu tertoreh dengan kaku

Aku malu
Karna sudah hampir dua tahun lalu
Semenjak aku datang ke tempat ini untuk mu
KEMANA SAJA AKU SELAMA INI????!!!!!!!!!!!!!!!

Dulu kau tak pernah meluputkan pandangan mu dari ku
Namun sekarang, bagaimana dengan aku?
Aku menyesal, tak sering datang dan berdoa di rumah terakhirmu..



***
BABEH....
Dulu jiwa raga dan harta mu tercurah penuh untuk ku..
Namun apa yang bisa ku berikan kini selain bunga-bunga yang ku beli di pasar???

Bersama dengan terucapnya tiap keluh kesah pada mu, ku taburkan bunga-bunga yanng seharum nama mu..
Ku kumpulkan bunga kamboja putih yang seputih hatimu
Ku susun rapi di depan batu yang bertulis nama mu

BABEH...
Ini aku datang
Aku, anak perempuan mu yang cuma satu
Aku, anak perempuan mu yang kelahiran nya kau tunggu..
Aku, anak perempuan mu yang sering mengecewakan mu..

Ku sentuh dan ku belai lembut batu itu, ku bayangkan saat ku lakukan hal itu di kepalamu, saat pertama kali ku tahu tubuhmu telah kaku
Ku bersihkan tanah-tanah kering di batu itu, ku bayangkan saat ku bersihkan wajahmu saat pertama kali ku tahu kau meninggalkan ku

BABEH...
Aku pergi dulu
Mengejar cita-cita dan mimpi ku
Untuk banggakan mu
Bahagiakan mu
untuk mu...

BABEH...
Jangan sedih dulu
Aku pasti akan mengunjungimu
Mendoakanmu
dan datang duduk lagi di sisi batu itu
untuk mu...



Daun Hijau yang Menguning

Berbentuk elips dengan ujungnya yang meruncing
Ringkih dan agak sedikit bening
Bertangkai tipis dan tidak tahan banting
Daun itu daun puring
Tidak berbau harum seperti bunga kemuning
Tertiup angin pun tak berbunyi gemerincing
Kupu-kupu pun menatapnya dengan mata yang memicing
Ia sering bergoyang manja layaknya kucing
Atau diam kaku seperti patung dari beling
Daun yang jarang dianggap penting
Padalah dirinya yang memasak makanan untuk menghidupi pohon yang malas bagai anjing
Padahal dirinyalah akses keluar masuk udara agar dapat bernapas si pohon yang sok anggun bagai gajah bergading
Daun kini terhempas bersama masa yang beriring
Daun kini tergeletak di tanah, tak berdaya terbaring
Daun hijau kini menguning
Hidupnya datar seperti dinding
Kedinginan merinding
Terus digerus waktu yang seakan bertanding
Membusuk kemudian mengering
Jadi serpihan, terbawa angin yang terus berputar bagai baling-baling

Daun, kapan ya mereka eling?

Perempuan Keji cap Comberan




Gigi bertaring, mata mengerling
poni menyamping, dagu meruncing
telinga beranting-anting,
Tubuh tinggi langsing,
Melangkah, membuat semua tak begeming

Terkesan lugu layaknya gadis dusun
Seakan teduh seperti pohon rimbun
Namun
bibirnya basah akan racun
membuat yang diciumnya mati tanpa ampun

duduk manis berpangku tangan
namun ketika tangan direntangkan
Pelukannya memabukkan
Membuat kehilangan kesadaran

Setelah mendapat yang diinginkan
Ia pergi meninggalkan
Si korban dicampakkan
Di selokan

Suatu saat di hari milik si Perempuan
terbang kesana kemari bergentayangan
tersangkut di sebuah pangkuan
Laki-laki yang juga setan
Perempuan keenakan
Merasakan kenikmatan
Ia lupa kemudian
Bahwa harusnya ia yang jadi subjek pementasan

Perempuan dihancurkan
Dipasung dan dirantaikan
Dipukuli hingga pingsan
Diangkut terbang di ketinggian
Dihempas jatuh terjerembab di kedalaman

Kasihan
Hanya terbaring tak berdaya sendirian
Dengan luka di sekujur badan
Dengan darah bercucuran

Di tempat yang sama dimana ia sering meninggalkan sampah perasaan
Di comberan....

Rabu, 16 Februari 2011

Kepada Rizky Lazuardy (09 Jul 1983 - 10 Des 2005)

Pohon natal telah kembali menyala
Senandung natal telah kembali menggema
Namun kamu dimana?
Bukankah tahun-tahun lalu kau selalu ada
Memilih baju, sepatu, asesori untuk ku pakai
Kadang berargumentasi karna beda pendapat
Tapi sebenarnya sekarang kau dimana?
Mengapa diam saja? Mati rasa?
Maaf, aku lupa.
Kau memang telah tiada
Pergi cepat menghadap Yang Kuasa
Andai kau ada nyata
Tak cuma kenangan yang hidup di jiwa

Tapi nyata di depan mata!!

06 Desember 2006
KARTIKA AYU ANDINI

-- saat terlalu sesak menahan rindu pada Mas Chichi.. DI NATAL kedua tanpa kehadirannya..
Rizky Lazuardi juga nama lain yang selalu besanding dengan nama Wiyono Haryono. Beliau diminta kembali oleh Bapa pada usianya yang ke 22 tahun..

Rizky Lazuardy lahir di Jakarta, 09 Juli 1983.
Menemaniku setiap hari.
Paling dekat, karena dia kakak yang tepat di atasku.
Mengajariku tentang dunia.
Tentang bagaimana menghadapi Mama jika marah, minta maaf kepada Papa yang kesal, mencari pria, hingga mengenalkanku pada rasa Label Merah.
waktu dia memberiku seteguk Jack @Daniel's dia bilang "Nih, chu, biar loe gak norak-norak amat!"
Atau saat dia memberi tahu "nih, gw kasih tau, ini boti, ini putaw, ini ganja, klo liat yang kaya gini ni, jangan mau kalo dikasih orang, kasih ke gw aja, hehe.."
mas chichi anak kesayangan mama. Bahkan ketika papa hampir jantungan karena di suatu malam anak laki-lakinya pulang dengan rambut sepirang Christina Aguilera, mama lah yang mengantarnya ke salon untuk mengitamkannya.
Bahkan ketika ia tertangkap basah sedang sakau di kamarnya yang gelap dan berisik oleh lagu Marlyn Manson "I don't like the drugs, but the drugs like me... I don't like the drugs, but the drugs like me.." mama lah yang menghantarnya ke RSKO.
Bahkan juga mama lah yang hampir menamparku saat kami berkelahi dan aku menendang kemaluan mas chichi hingga dia pingsan.
Tapi papa sangat sabar. Menyadarkan bahwa kami saudara.
Mas Chichi ku tidak sempat kuliah. Dia ingin bekerja, bantu papa buat bayar SPP ku, katanya.
Aku ingat saat SMA dia datang ke sekolahku dan mencari teman sekelas pria ku yang menggangguku.
Dia "Body Guard" keluargaku.
Bila pacarku kala itu datang di malam minggu, dia selalu bilang: "gw seneng tuh sama si kentung, dia suka ngasih gw rokok, gak pelit klo gw mau pinjem motor, hehe.."
Kata orang senyum dan mata nya sangat mirip aku.
Mas Chichiku yang temperamental tapi sentimental..
Aku ingat dia menangis menggerung-gerung di pelukanku saat diputus oleh pacarnya. Dia mengadu padaku bagai anak kecil yang direbut permennya "gw sayang banget, chu, sama dia, tapi dianya tuh gak ngerti-ngerti"
Dia selalu sangat menjaga apa yang dia sayang.
Bahkan ketika papa kami dipanggil Sang Khalik, ia sempat bercerita pada pacarnya: "chi sekarang harus bisa jaga mama, apa lagi ayu. Chi ga mau dia putus sekolah. Ayu pinter, rangking terus ga kaya chi. Chi mau sekolahin dia sampe dia jadi orang"
Setengah mati dia cari kerja, untuk aku. Untuk mama.
Kala itu dia buat pengakuan pada ku: "chi sekarang udah bukan junky, chi udah bersih, loe percaya kan, dek, sama gw?"
Padahal panggilan "dek" hanya ia pakai jika ia ingin minta tolong memasakkan mie instant atau membelikannya rokok.
Ia memang sudah drugs free.
Tp badannya sudah rusak.
Mas chichiku sempat sakit kuning. Mata, tangan, kuku, semuanya kuning.
Di penghujung nya, ia komplikasi. Hati, paru-paru, ginjal, semua rusak.
Tiga bulan lamanya mama mengurusnya di rumah sakit. sampai aku tak terurus. Aku sempat iri dan hampir benci sama mas chichi karna itu.
Mas chichi dinyatakan layak rawat jalan, dan harus suntik 60 kali. Satu kali sehari.
Di hari ketiga dia di rumah dia telepon aku yang kala iti di sekolah :" chu, gw pengen pizza. Beliin ya, chu, please.."
Aku tak mau. Aku masih kesal.
Tapi setelahnya aku menyesal, pizza adalah permintaan terakhirnya padaku.
Di minggu pertama di bulan Desember itu dia pergi. Selamanya..

Dan aku, akan selalu merasa dia ada untuk menjagaku, menyemangatiku untuk kuliah..

RIZKY LAZUARDI, TIDAK GAGAL MENJADI FIGUR KAKAK YANG IDEAL, TIDAK GAGAL SAMA SEKALI..
BAHKAN DIKEGAGALANNYA MELAWAN NARKOBA, IA BANGKIT DAN TUNJUKKAN PADA DUNIA, BAHWA IA MENINGGAL TIDAK SEBAGAI JUNKY!!!!!

AKU SAYANG KAMU, MAS..
MAS CHICHIKU YANG SOK JAGOAN TAPI CENGENG..
MAS CHICHIKU YANG SERING MABUK TAPI LEBIH RAJIN MENYAPU DARI PADA AKU..
MAS CHICHIKU YANG BERHASIL DRUGSFREE..
TAPI, MAU BAGAIMANA LAGI, HIS SOUL IS ALSO FREE NOW, HUH??

Yang tenang ya, mas, di sana..
Salam untuk papa..
I LOVE YOU BOTH!

Untuk RIZKY LAZUARDI.. (09  JULY 1983- 10 DESEMBER 2005)

Gadis Kecil Berkuncir Berantakan

Gadis kecil berkuncir berantakan
Lukiskan sebagaimana kisah hidupnya
Duduk menepi menggigit jari
Air matanya mengering, menjadi kerak di pipinya
Matanya kosong namun berbicara
Kaki kotor tak berkasutkan apa jua
Mengirim pesan lewat gelombang bawah tanah
Betapa gadis kecil berkuncir berantakan
Rindu ayah, ibu, saudara, dan kawan
Menggeram meraung ingin diperhatikan
Gadis kecil berkuncir berantakan
tak punya uang atau pakaian
kelaparan..




kepada gadis kecil berkuncir berantakan yang kutemui di suatu siang di bawah lampu merah itu.

Selasa, 15 Februari 2011

Anakperempuan Mencari Pelangi

Aduhai siang... begitu dingin layaknya pegunungan!
Hujan datang aku senang
Tanda pelangi akan ku jelang
Aku biarkan rambutku tergerai hingga ke bahu
Terhipnotis nada rintik aku menghentakkan kaki, menggoyangkan kepala, melambaikan tangan, menari
"Syubidu biduu.. Lalalaa.. ooohhh.. syubidulala..."

***
Satu, dua, tiga, empat, jatuh dari talang air menuju pelimbahan dengan cepat
Basah kuyup dari ubun-ubun hingga telapak kaki
Kelaparan aku akan suara pelangi
Memangnya mengapa kalau aku bermain dengan katak dan tonggeret?
Aku mengecup bibir katak dan mendekap tonggeret yang begitu raksasa di tanganku
Menarilah bersamaku para penghuni hujan
Bersama semak dan rumput aku terlentang berguling-guling di tanah basah
Ooh awan mendung, aku cinta derasnya hujan!
Hujan siang hari yang membuatku lupa akan pagi
Tetesan yang turun dari atas kepala, membentuk gelembung air di ujung rambutku dan bulu mataku
Merapatkan kelopak mata dan bersenandung "Hujan siang ini, ku nanti pelangi.. nanana..nanna.."


***
Menjalankan ritual susur parit bersama dedaunan kering yang tengah hanyut
"Hey daun bijaksana, bolehkah aku menumpang di atas mu? dan biarkan ku tertidur lelap selagi aliran air hujan melayarkanku..."
Katak membantuku bernegosiasi dengan daun
Tonggeret berbisik-bisik kepada temannya agar bernyanyi bersama mengiringiku
Daun memutar kemudi, menepi, dan mendekat sehingga aku bisa melangkahkan kakiku untuk naik ke atasnya
"Daun bijaksana, daun baik hati, mengantarkan aku pergi, ke persembunyian pelangi... terus menghanyut.. mari terhanyut.. syubidup papap.. tralalaa.. syanananana..."
Tonggeret dan katak melambaikan tangan, kawanan tonggeret lainnya berbaris di sepanjang tepian
Agar tetap aku tenteram dalam dendangan mereka selama perjalanan mengasyikan ini

***
Pepohonan besar nan angkuh memandangku sinis dan menertawakan aku
Katanya: "Anak manusia! Ya, anak perempuan dari manusia! Kecil dan mudah tertipu daya!"
"Nanana..nananana...." Terus bernyanyi dan tak perduli, membaringkan tubuh dengan nyaman di punggung daun bijaksana
Ada juga Paman Tikus, sempat berteriak bertanya: "Mau kemana  Anakperempuan?"
Kujawab dengan nada: "Mencari pelangi.. lalala.. lilili.."
Perjalanan kian menyenangkan dengan tetap dihujani rintikan

***
Tiba di ujung sungai, aku melompat kegirangan
Melakukan putaran dua kali ke kiri tiga kali ke kanan
Mengangkat tangan dan kaki berbalasan
Menggerakkan kepala dan meliukan badan
"Pelangi... Aduhai Pelangi.. mari sini.. aku datang ingin dicintai..  Oleh warnamu yang mewarni.."
"Pelangi manis penuh sensasi.. warnai aku yang pucat pasi.."
"Pelangi baik hati.. mengasahku setajam belati.."
Aku kini bercahaya dan penuh warna...

Anakperempuan paling bahagia...!!!!

Senin, 14 Februari 2011

Canda dan Tawa

"Bukan! Tidak! Tidak mungkin!"
"YA!!! Kami memang kembar!"

***
Dua yang belia remaja ceria
Canda dan Tawa selalu bergandengan berjalan bersama
Satu nadi satu denyut
Satu jiwa satu nafas
Satu senang, yang satu  juga..
Satu sakit, menular ke lainnya.. 

Canda memang lebih banyak bicara
Melontarkan humor-humor segar setiap berbicara
Tawa lebih responsif
Menggelakkan senyum renyah lebar yang agak agresif

Canda berambut panjang tipis tergerai berwarna coklat keemasan
Wajahnya selalu segar seperti susu dalam kemasan
Matanya agak sipit dan selalu berbinar
Bibir mungil tak berhenti bicara semerdu petikan gitar
Kemana jua memakai gaun mini biru muda berenda
Tanpa alas kaki tentunya

Tawa berambut hitam sebahu nan berkilau
Air mukanya selalu cantik memukau
Kesukaannya gaun panjang merah muda
Selalu tersenyum dengan mata bulatnya
Juga demikian bibir tipisnya
Sama halnya dengan Canda, kaki mungil Tawa selalu langsung menatap bumi

Dimana ada CandaTawa bersamanya serta

Suatu masa ketika Canda merasa lebih dewasa, Ia diam-diam mencoba pergi di malam hari
Meninggalkan saudari nya  yang tengah lelap tidur di bawah pohon ceri
Tawa terbangun dan memeluk sepenuh hati, katanya "Jangan tinggalkan aku, Saudari!"
Canda tak tega dan mengajak Tawa menari
Di bawah sinar bintang ataupun terik matahari
Suasana renyah seperti biji kenari 



***
"Jangan! Tidak!"
"Biar! Biar rasa!"

Tawa diculik, diperkosa sampai mati.
Oleh duet pemburu terkenal  di hutan: Amarah dan Hawanafsu Keji
Mayatnya dibuang ke Danau Rasasesal
Canda menggeram
Menangis sambil menggigit ujung renda di bajunya yang kini menghitam
Canda balas dendam
Ketika tidur Amarah dan Hawanafsu Keji Ia tikam
Canda tetap tidak tenteram
Melucuti pakaiannya sendiri dan menjatuhkan diri ke Danau Rasasesal, tenggelam



***
Bertahun kemudian, orang banyak membicarakan si kembar
Danau Rasasesal mengering menjadi jurang terjal
Dimana kerangka mereka ditemukan berhadapan berkilau bagai kristal....