Aku berharap bisa mengadu kepada MingguMenangis di pelukannya dan mendengarkan degup jantungnya:
Kepada: Minggu
di tempat.
Minggu, apa kabarmu?
Aku rindu padamu walau memang kita tak pernah bertemu.
Minggu, bolehkah aku bercerita sedikit banyak padamu?
Ini semua tentang Sabtu.
Betapa Sabtu menghancurkan aku yang kini tersedu.
Mengaduh: "Aduh... aduh.. duh.. duduhh.."
Mengampun: "Ampun,, ampun.. aaaam... puuun..."
Minggu, jangan bingung dahulu.
Aku akan mulai bercerita satu-satu.
Aku kenal Sabtu dari dulu.
Dia jujur dan lugu.
Bebas dan menyenangkan.
Aku suka bermain dengannya, dia selalu berada tepat setelahku.
Sabtu membebaskan aku, dan memberi ruang baru untukmu.
Begitu selalu, ya, seperti yang aku tahu.
Tapi Minggu, kali ini aku benar-benar sendu.
Sabtu mengoyak ragaku dan merobek jiwaku.
Ia membuka sulaman yang telah ku pintal.
Umur kita selalu sama, dua puluh empat jam lamanya.
Tapi mengapa dia harus lebih angkuh?
Seakan aku ini tak pernah ada.
Aku sakit hati, kecewa sudah karenanya, Minggu..
Sabtu itu benar-benar abu-abu.
Bisa saja dia putih, namun kemudian menghitam tanpa ku tahu.
Sabtu itu benar-benar labil.
Bisa saja dia pergi, namu kemudian datang tanpa ku panggil.
Sabtu yang sekarang, sungguh garang.
Aku dibuatnya terbakar jadi arang.
Memangnya dia pikir aku jalang???
Astaga, Minggu, tolong aku!
Aku tahu hanya kamu yang mengerti aku, sebagai yang tertua dengan umur yang sama.
Aku tahu bahwa kamu mampu memperbaiki aku dengan seksama.
Dan aku sungguh tahu, bahwa kamu, ya, benar-benar hanya kamu,
Jika dan hanya jika itu kamu!
Minggu, katakan pada Sabtu, aku ingin Sabtu yang seperti biasanya.
Yang merajuk yang merayu, yang mesra yang manja.
Selalu dan atau selamanya.................................
Dari aku yang berada di dua puluh empat jam sebelum kamu,
Salam hangat
-Jumat-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar