Raut wajah yang berpikir keras, menonjolkan bentuk tulang pipi dengan jelasAlis mengangkat, bagai telur yang menetas menjadi ulat
Menengadahkan tangan menangkap matahari..
Selendangnya beterbangan di belakang punggungnya..
Wajah dengan tiap guratannya, kekhawatiran yang dirasa...

***
Masa yang menua, waktu yang berlalu, detik yang terbengkalai
Kain kotak-kotak hitam putih menyimpan kesaksian
Hendaknya hentakan jari jemari menandaskan isyarat terselubung
Dewa Langit, Dewa Bumi, biar sangit tetap dikagumi
Hanya ketika pemahatan kalbu terlengkapi, permainan harap dan khayal akan berhenti
Penggagasan yang unik telah disajikan kepada Sang Penanti
Penanti yang murung dan terkurung dalam sangkar burung
Dulu sang pengembara berjalan dan entah kapan dipulangkan
***
Hilang, kehilangan gairah untuk menunggu maka Penanti memutuskan untuk bunuh diri
Dibalik setiap ekspresi wajah berpikir yang dibuatnya sebelum gantung diri,
Penanti merapatkan kedua telapak tangan dan meletakkannya di depan dada tipisnya; berdoa kepada Dewa Dewi:
"Om A visvadevam satpatim suktai adya vrnimahe stayasavam sawitaram"
Mengastralkan diri menembus dimensi dimensi klenikisasi
Bahasa bahasa yang tak dimengerti
Dilafalkan dengan lirih dan perih sedih
Dan kemudian mengambil tautan tali yang tersimpul di atas pohon kapas terpapas
Melompat cepat, berteriak hening
Sendiri dan sepi, burung jalak pun tak tega menyaksikannya dan memutuskan untuk pergi tanpa menyalak
***
Pengembara sudah pergi sejak lama, mengembara untuk menciptakan suasana penantian bagi Penanti
Tanda dia tahu bahwasannya Penanti telah sampai kepada klimaks penantian, Ia terus berjalan dengan antusias tanpa batas
***
Penanti itu bernama Kinanti
Pengembara itu bernama Ambara
Kinanti sudah mati
Ambara terus membara
Kinanti dan Ambara
Menyatu abadi dalam keberpisahan...


KERENNNNNNNNNNNNNNN............. :D
BalasHapusSunggguh.....
Standing Applause :D