"Bukan! Tidak! Tidak mungkin!"
"YA!!! Kami memang kembar!"
***
Dua yang belia remaja ceria
Canda dan Tawa selalu bergandengan berjalan bersama
Satu nadi satu denyut
Satu jiwa satu nafas
Satu senang, yang satu juga..
Satu sakit, menular ke lainnya..
Canda memang lebih banyak bicara
Melontarkan humor-humor segar setiap berbicara
Tawa lebih responsif
Menggelakkan senyum renyah lebar yang agak agresif
Canda berambut panjang tipis tergerai berwarna coklat keemasan
Wajahnya selalu segar seperti susu dalam kemasan
Matanya agak sipit dan selalu berbinar
Bibir mungil tak berhenti bicara semerdu petikan gitar
Kemana jua memakai gaun mini biru muda berenda
Tanpa alas kaki tentunya
Tawa berambut hitam sebahu nan berkilau
Air mukanya selalu cantik memukau
Kesukaannya gaun panjang merah muda
Selalu tersenyum dengan mata bulatnya
Juga demikian bibir tipisnya
Sama halnya dengan Canda, kaki mungil Tawa selalu langsung menatap bumi
Dimana ada Canda, Tawa bersamanya serta
Suatu masa ketika Canda merasa lebih dewasa, Ia diam-diam mencoba pergi di malam hari
Meninggalkan saudari nya yang tengah lelap tidur di bawah pohon ceri
Tawa terbangun dan memeluk sepenuh hati, katanya "Jangan tinggalkan aku, Saudari!"
Canda tak tega dan mengajak Tawa menari
Di bawah sinar bintang ataupun terik matahari
Suasana renyah seperti biji kenari
***
"Jangan! Tidak!"
"Biar! Biar rasa!"
Tawa diculik, diperkosa sampai mati.
Oleh duet pemburu terkenal di hutan: Amarah dan Hawanafsu Keji
Mayatnya dibuang ke Danau Rasasesal
Canda menggeram
Menangis sambil menggigit ujung renda di bajunya yang kini menghitam
Canda balas dendam
Ketika tidur Amarah dan Hawanafsu Keji Ia tikam
Canda tetap tidak tenteram

Tidak ada komentar:
Posting Komentar