Aduhai siang... begitu dingin layaknya pegunungan!Hujan datang aku senang
Tanda pelangi akan ku jelang
Aku biarkan rambutku tergerai hingga ke bahu
Terhipnotis nada rintik aku menghentakkan kaki, menggoyangkan kepala, melambaikan tangan, menari
"Syubidu biduu.. Lalalaa.. ooohhh.. syubidulala..."
***
Satu, dua, tiga, empat, jatuh dari talang air menuju pelimbahan dengan cepat
Basah kuyup dari ubun-ubun hingga telapak kaki
Kelaparan aku akan suara pelangi
Memangnya mengapa kalau aku bermain dengan katak dan tonggeret?
Aku mengecup bibir katak dan mendekap tonggeret yang begitu raksasa di tanganku
Menarilah bersamaku para penghuni hujan
Bersama semak dan rumput aku terlentang berguling-guling di tanah basah
Ooh awan mendung, aku cinta derasnya hujan!
Hujan siang hari yang membuatku lupa akan pagi
Tetesan yang turun dari atas kepala, membentuk gelembung air di ujung rambutku dan bulu mataku
Merapatkan kelopak mata dan bersenandung "Hujan siang ini, ku nanti pelangi.. nanana..nanna.."
***
Menjalankan ritual susur parit bersama dedaunan kering yang tengah hanyut
"Hey daun bijaksana, bolehkah aku menumpang di atas mu? dan biarkan ku tertidur lelap selagi aliran air hujan melayarkanku..."
Katak membantuku bernegosiasi dengan daun
Tonggeret berbisik-bisik kepada temannya agar bernyanyi bersama mengiringiku
Daun memutar kemudi, menepi, dan mendekat sehingga aku bisa melangkahkan kakiku untuk naik ke atasnya
"Daun bijaksana, daun baik hati, mengantarkan aku pergi, ke persembunyian pelangi... terus menghanyut.. mari terhanyut.. syubidup papap.. tralalaa.. syanananana..."
Tonggeret dan katak melambaikan tangan, kawanan tonggeret lainnya berbaris di sepanjang tepian
Agar tetap aku tenteram dalam dendangan mereka selama perjalanan mengasyikan ini
***
Pepohonan besar nan angkuh memandangku sinis dan menertawakan aku
Katanya: "Anak manusia! Ya, anak perempuan dari manusia! Kecil dan mudah tertipu daya!"
"Nanana..nananana...." Terus bernyanyi dan tak perduli, membaringkan tubuh dengan nyaman di punggung daun bijaksana
Ada juga Paman Tikus, sempat berteriak bertanya: "Mau kemana Anakperempuan?"
Kujawab dengan nada: "Mencari pelangi.. lalala.. lilili.."
Perjalanan kian menyenangkan dengan tetap dihujani rintikan
***
Tiba di ujung sungai, aku melompat kegirangan
Melakukan putaran dua kali ke kiri tiga kali ke kanan
Mengangkat tangan dan kaki berbalasan
Menggerakkan kepala dan meliukan badan
"Pelangi... Aduhai Pelangi.. mari sini.. aku datang ingin dicintai.. Oleh warnamu yang mewarni.."
"Pelangi manis penuh sensasi.. warnai aku yang pucat pasi.."
"Pelangi baik hati.. mengasahku setajam belati.."
Aku kini bercahaya dan penuh warna...
Anakperempuan paling bahagia...!!!!

BRAVO... !!!!
BalasHapusBagus, nyu
itu gambar asli lukisanmu ??